
Pagi tadi sekertaris saya menelpon mengabarkan bahwa investasi saham kami saat ini anjlok terimbas krisis keuangan di Amerika. Kabar ini memang tidak mengejutkan lagi karena toh bibit krisis sudah terlihat sejak tahun 2007 lalu, atau bahkan telah disemai jauh hari sebelumnya.. Mungkin sebentar lagi manajer proyek kami akan menelpon untuk melaporkan kerugian akibat kenaikan bahan baku.Alih-alih bercemas ria, saya malah makin kagum dengan kuasa Tuhan. Dengan berbagai cara Ia ‘menyentuh’ bumi dan mengukir kembali permukaan dunia dengan tanganNya yang maha kuat. Hasilnya, muncul guratan atau corak wajah bumi yang bisa saja sangat lain dari sebelumnya.
Di jaman dahulu Irian Jaya menyatu dengan Australia. Demikian juga Sumatera, Jawa, dan Kalimantan satu daratan dengan Asia. Lalu dengan kuasaNya, Tuhan memakai gejala alam untuk mengalirkan samudra dan memisahkan pulau-pulau dari daratan. Pun tak lupa Ia mengangkat Sulawesi dari dasar lautan, sehingga melengkapi kepulauan yang sekarang bernama Indonesia. Maha dahsyat karya tanganNya.
Jaman berlalu, wajah bumi bergonta ganti. Hutan Afrika dan tanah Arabia yang subur, kini sebagian besar menjadi padang pasir. Peperangan dan bencana mungkin menghasilkan warna indah, tapi lebih banyak menghasilkan sisi yang lebih kelam dan membawa derita bagi bumi.
Di Aceh, tak pernah terbayangkan bakal mengalami kisah nabi Nuh. Bahkan kapal besar di lautan terlontar dan kini menjadi monumen di ketinggian dataran. Wajah gelap bencana, jelas membawa warna lain bagi masyarakat Aceh. Di dalam setiap peristiwa terselip makna yang kadang sulit terbaca..
Kepedihan Tsunami, bisa jadi punya andil memberi arti damai bagai masyarakat Aceh yang telah sekian lama dicekam ketakutan. Karena Tsunami rang-orang dari berbagai pelosok dunia berdatangan membawa berbagai bantuan. Orang-orang yang mungkin tidak pernah mendengar nama Aceh, kini berada di sana dan bersentuhan dengan saudara mereka yang berwarna kulit lain. Guratan bencana membawa nikmat dari Tuhan? Entahlah, yang jelas saya yakin, Ia tidak pernah terlelap.
Amerika Serikat, negara adi daya yang sempat saya kagumi sebagai negeri terjanji di jaman modern. Betapa tidak, semuanya seolah ada di sana. Pendidikan terbaik, layanan kesehatan, teknologi, bahkan perekonomian yang (seolah-olah) kuat.
Keyakinan saya sedikit goyah ketika Katrina menyerang. Bukan karena besarnya bencana yang membuat saya miris. Lebih menyakitkan melihat penanganan korban yang ternyata tidak sesempurna harapan. Banyak yang masih terlunta dalam derita. Padahal kalau mau, penanganan super cepat bisa saja dilakukan. Atau itu hanya terjadi di Holywood?
Dibidang ekonomi ekonomi, saya betul-betul tidak menyangka kalau ekonomi Amerika yang begitu liberal kini harus dicampuri oleh pemerintah. Penggantian direksi perusahaan sampai masalah pembagian bonus karyawan pun ditangani presiden AS. Wow!! Sejarah baru di dunia ekonomi. Tapi ini memang terjadi. Sekali lagi, saya hanya mengagumi Tuhan. Ia melakukan segalanya tanpa pernah di duga. Hembusan kuasaNya bergerak kesana kemari.
Analis dan investor boleh saja mengemukakan analisa investasi dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan yang njelimet, tapi Tuhanlah yang empunya bumi beserta semesta. Angka-angka keuangan? Jangan salah, sumber pengetahuan adalah Tuhan. Jadi bila para spekulan mencoba merusak tatanan ekonomi semesta untuk keuntungan sendiri, jangan lupa bahwa di atas sana ada Ahli di atas segala ahli.
Hmm...dengan rontoknya harga saham kemungkinan saya akan jatuh miskin setelah ini. Miskin, kering. Yah mungkin kering seperti bougenville yang berjejer sepanjang perjalanan ini.
Tapi..hei lihat. Bunga-bunga bougenville itu memang kering dan hampir tanpa daun. Tapi bunganya sungguh lebat dan indah-indah. Padahal ini masih musim kemarau. Bougenville justru tetap mampu memperlihatkan keindahan Tuhan dikala ia kering dan merana. Mungkin ia malah tidak sempat memberi bunga dikala daunnya subur dan lebat.
Dalam segala keterbatasan dan kekeringan, semestinya kita masih bisa memberikan keindahan Tuhan untuk dinikmati sesama. Bukan hanya mengeluh ditengah limpahan kasih Tuhan yang mungkin lupa kita syukuri; keluarga yang hangat, udara pagi, matahari, pekerjaan, teman sehati, kemampuan berpikir, dll. Seharusnya itu sudah cukup untuk membuat kita mekar.
Di jaman dahulu Irian Jaya menyatu dengan Australia. Demikian juga Sumatera, Jawa, dan Kalimantan satu daratan dengan Asia. Lalu dengan kuasaNya, Tuhan memakai gejala alam untuk mengalirkan samudra dan memisahkan pulau-pulau dari daratan. Pun tak lupa Ia mengangkat Sulawesi dari dasar lautan, sehingga melengkapi kepulauan yang sekarang bernama Indonesia. Maha dahsyat karya tanganNya.
Jaman berlalu, wajah bumi bergonta ganti. Hutan Afrika dan tanah Arabia yang subur, kini sebagian besar menjadi padang pasir. Peperangan dan bencana mungkin menghasilkan warna indah, tapi lebih banyak menghasilkan sisi yang lebih kelam dan membawa derita bagi bumi.
Di Aceh, tak pernah terbayangkan bakal mengalami kisah nabi Nuh. Bahkan kapal besar di lautan terlontar dan kini menjadi monumen di ketinggian dataran. Wajah gelap bencana, jelas membawa warna lain bagi masyarakat Aceh. Di dalam setiap peristiwa terselip makna yang kadang sulit terbaca..
Kepedihan Tsunami, bisa jadi punya andil memberi arti damai bagai masyarakat Aceh yang telah sekian lama dicekam ketakutan. Karena Tsunami rang-orang dari berbagai pelosok dunia berdatangan membawa berbagai bantuan. Orang-orang yang mungkin tidak pernah mendengar nama Aceh, kini berada di sana dan bersentuhan dengan saudara mereka yang berwarna kulit lain. Guratan bencana membawa nikmat dari Tuhan? Entahlah, yang jelas saya yakin, Ia tidak pernah terlelap.
Amerika Serikat, negara adi daya yang sempat saya kagumi sebagai negeri terjanji di jaman modern. Betapa tidak, semuanya seolah ada di sana. Pendidikan terbaik, layanan kesehatan, teknologi, bahkan perekonomian yang (seolah-olah) kuat.
Keyakinan saya sedikit goyah ketika Katrina menyerang. Bukan karena besarnya bencana yang membuat saya miris. Lebih menyakitkan melihat penanganan korban yang ternyata tidak sesempurna harapan. Banyak yang masih terlunta dalam derita. Padahal kalau mau, penanganan super cepat bisa saja dilakukan. Atau itu hanya terjadi di Holywood?
Dibidang ekonomi ekonomi, saya betul-betul tidak menyangka kalau ekonomi Amerika yang begitu liberal kini harus dicampuri oleh pemerintah. Penggantian direksi perusahaan sampai masalah pembagian bonus karyawan pun ditangani presiden AS. Wow!! Sejarah baru di dunia ekonomi. Tapi ini memang terjadi. Sekali lagi, saya hanya mengagumi Tuhan. Ia melakukan segalanya tanpa pernah di duga. Hembusan kuasaNya bergerak kesana kemari.
Analis dan investor boleh saja mengemukakan analisa investasi dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan yang njelimet, tapi Tuhanlah yang empunya bumi beserta semesta. Angka-angka keuangan? Jangan salah, sumber pengetahuan adalah Tuhan. Jadi bila para spekulan mencoba merusak tatanan ekonomi semesta untuk keuntungan sendiri, jangan lupa bahwa di atas sana ada Ahli di atas segala ahli.
Hmm...dengan rontoknya harga saham kemungkinan saya akan jatuh miskin setelah ini. Miskin, kering. Yah mungkin kering seperti bougenville yang berjejer sepanjang perjalanan ini.
Tapi..hei lihat. Bunga-bunga bougenville itu memang kering dan hampir tanpa daun. Tapi bunganya sungguh lebat dan indah-indah. Padahal ini masih musim kemarau. Bougenville justru tetap mampu memperlihatkan keindahan Tuhan dikala ia kering dan merana. Mungkin ia malah tidak sempat memberi bunga dikala daunnya subur dan lebat.
Dalam segala keterbatasan dan kekeringan, semestinya kita masih bisa memberikan keindahan Tuhan untuk dinikmati sesama. Bukan hanya mengeluh ditengah limpahan kasih Tuhan yang mungkin lupa kita syukuri; keluarga yang hangat, udara pagi, matahari, pekerjaan, teman sehati, kemampuan berpikir, dll. Seharusnya itu sudah cukup untuk membuat kita mekar.
Anganku membayangkan sekolah gratis yang dirintis untuk anak-anak jalanan, lambaian tangan pengemis, ceria wajah tukang koran tadi pagi, Pardi yang setiap pagi mengantar kopi di meja kerjaku, senyum Jeremiah yang terlahir dengan kaki empat dan kerusakan jantung, ah… Mereka tetap tersenyum meski tidak pernah tahu apa itu krisis keuangan, saham, dan sebagainya.
Barangkali tangan Tuhan akan melukis sesuatu yang baru hari ini, dalam diri kita, di lingkungan kita atau negara kita. Ia tidak pernah berhenti, (mungkin) sampai dunia ini penuh bougenville yang bermekaran. Percayalah, Tuhan mengasihimu. Mekarlah bagi orang-orang di sekelilingmu.

Barangkali tangan Tuhan akan melukis sesuatu yang baru hari ini, dalam diri kita, di lingkungan kita atau negara kita. Ia tidak pernah berhenti, (mungkin) sampai dunia ini penuh bougenville yang bermekaran. Percayalah, Tuhan mengasihimu. Mekarlah bagi orang-orang di sekelilingmu.


1 komentar:
adelt, my beloved friend....
membaca selalu menjadi saat yang menyenangkan kalo udah baca tulisan lu, delt...
ditengah kesibukan yang amat sangat masih ada waktu dan pikiran untuk nulis, ruarrr biasa...
satu harapan semoga bougenville itu tumbuh tidak jauh dari hati kita.
yang sedikit tetap lebih berarti daripada tidak sama sekali, bukan?
GBU...
Post a Comment